Antara Menulis, Fotografi dan Blog


Salah satu pendukung tulisan adalah foto. Kini, foto bukan sekedar untuk mengabadikan momen tertentu, tapi sama seperti tulisan yakni menyampaikan pesan. Ya, dunia telah berubah. HOS Cokroaminoto pernah berkata, “Jika kau ingin menjadi pemimpin maka menulislah seperti wartawan dan berbicaralah seperti orator.” Ya, karena teknologi canggih kala itu adalah percetakan dan radio. Evolusi teknologi membuat hari ini kita bisa menyampaikan pesan lebih mendalam dengan foto.


Pameran Buku Pada Acara Kongres Mahasiswi Islam untuk Peradaban

Bagi kita yang ingin menyampaikan lebih banyak pesan kebaikan, tak ada salahnya belajar teknik fotografi. Sehingga jepretan kamera kita bisa menjadi foto yang bercerita. Sebenernya memotret bukan hal baru bagi saya. Sebagai jurnalis sebuah media dakwah, begitu banyak yang telah terekam. Cuman sayangnya, meskipun cinta dan ada kepuasan tersendiri setiap melihat hasil jepretan, karena keterbatasan segala hal, bidang ini kurang ditekuni. Walhasil, saya hanya sekedar jadi fotografer ‘panggilan’ :D




Beberapa kali mengikuti kelas online fotografi, namun baru kali ini ditakdirkan mengikuti kelas off-line. Dengan pendampingan dan suasana yang full kekeluargaan. Ya, bersama teman-teman Exclusive Blogging Class yang diadakan The Jannah Institute, jadilah tiga jam ngilmu fotografi. Berhubungan kelas blog ini tidak hanya menyajikan teori tapi juga praktek, duduklah kami di Lantai 2 Eatery n Space Kafe KPRI di Jalan Sumatra. Suasana yang nyaman, tidak terlalu ramai. Cuman, suara musiknya sedikit mengganggu konsentrasi :D

Karena pada saat yang sama harus menyimak penjelasan dari Kak Prita HW dan Kak Nana. Ahamdulillah-nya, entah di menit ke berapa tak terdengan lagi suara musik.


Suasana Pertemuan ke-5 Exclusive Blogging Class


Sambil menyimak materi, kami mencicipi beberapa menu. Saya memesan roti bakar coklat dan es teh manis. Karena kebetulan Husna saya ajak, jadi pesen menu yang ramah balita. Bonusnya lagi, Kak Nana owner SR_dessert berbagi Just Kidding ke semua peserta kelas blog. Just Kidding ini lebih dari sekedar susu. Ada sensasi jeli yang bikin makin seger dan rasa makin istimewa. Rasa taro adalah favorit saya dan Husna. Selain ajak Husna, saya ajak adik ipar, Wati untuk jagain Husna :D





Bersyukur ternyata salah satu peserta kelas blog juga bawa anak-anaknya. Jadilah Husna bermain bersama. Paling seru bermain bersama Kak Azzam yang super aktif dan lucu. 


Bermain Cilukba

Pelajaran pertama dari Kak Nana adalah ilmu fotografi secara umum. Bahwa memang ada banyak teori fotografi. Namun, seorang fotografer tak harus selalu berpatokan pada semua teori itu. Teori hanya membantu untuk mendapatkan hasil jepretan terbaik. Kami pun disuguhi beberapa jepretan Kak Nana yang ciamik.

Menurut saya, memotret itu sama dengan menulis. Harus lahir dari hati, untuk mempersembahkan yang terbaik, menyebarkan kebenaran, kebaikan atau keindahan. Jadi, jika motret jangan cuma bawa kamera, bawa hati juga ya... Dan sedikit-sedikit ngerti macam-macam sudut pengambilan gambar. Seperti yang sudah dijelaskan Kak Nana. Setidaknya ada  jenis sudut pengambilan gambar.

Pertama, bird eye. Pada posisi ini, objek yang akan kita bidik berada jauh di bawah/lebih rendah daripada kita. Umunya digunakan untuk membandingkan antara objek dengan keseluruhan lingkungan.

Kedua, high angle. Hampir sama dengan bird eye namun tidak se-ekstrim bird eye. Posisi fotografer lebih tinggi daripada objek foto. Mungkin ini contohnya :D ... jadi saya ambil foto ini dari lantai 2. Point of interesnya adalah desain yang begitu artistik pada tangga. Menurut saya ya :D





Foto roti bakar ini juga saya ambil dari posisi lebih tinggi. Nampak begitu nikmat bukan?




Foto adik Tangguh di bawah ini juga diambil dari posisi high angle.


Adek Tangguh, Sholih dan tangguh ya Nak!

Ketiga, eye level. Sudut pengembilan gambar yang dimana objek dan kamera sejajar / sama seperti mata memandang.


KPRI UNEJ di Kompleks Cafe Jl. Sumatra, foto diambil dari lantai 2

Suasana di Pintu Masuk Kongres Mahasiswi untuk Islam dan Peradaban


Keempat, low angle. Pemotretan dilakukan dari bawah. 

Husna dan Ammah Sari di Lapangan depan Perpustakaan UNEJ


Salah satu orator di Kongres Mahasiswi untuk Islam dan Peradaban

Kelima, frog eye. Pada posisi ini kamera berada di dasar bawah, hampir sejajar dengan tanah dan tidak dihadapkan ke atas. Nah, pada foto ini saya meletakkan kamera tepat di atas meja sejajar dengan piring roti. Karena mau motret dari dasar lantai belum nemu objek yang pas :)


Roti Bakar Green Tea

Seperti yang disampaikan Kak Prita HW, dunia blog itu menyenagkan. Bukan hanya sekedar eksistensi. Tapi juga mengasah keratifitas dan pastinya bisa menjadi sarana menyebarkan konten positif. Berbentuk tulisan yang diperkaya dengan gambar atau hasil jepretan kita. Bagi saya, konten positif itu tak lain adalah Islam.

Dan benar juga bahwa dengan memiliki blog, kita akan menemukan banyak teman yang se-passion. Meski dunia blog belum seratus persen saya tekuni, tapi setidaknya saya mulai mendapat gambaran bahwa menulis tidak melulu hanya untuk dikirim media-media mainstream. But, we can make our own media. We can make our own headline!

Selamat nge-blog, selamat menulis kawan!

Selamat menyebarkan kebaikan!

7 komentar:

  1. Wiihh lengkap foto2nya. Hehe
    Mbak tulisannya emang sengaja ga di rata kanan-kiri ya??

    BalasHapus
  2. fotografer perempuan kita, loveeee~ Secara, fotografer tuh mesti laki2 kebanyakan :) Barusan kutunjukin suami, katanya yg high level tuh model dr atas bgt dan klihatan semua, mirip rekaman cctv. Kalo yg cth foto Dek Tangguh (maacih Amma), roti dr atas itu flat lay. Gitu katanya, wkwk. Syukron udah berbagi pengalaman mbak

    BalasHapus
  3. Ealah Mbak Faiq doyan moto emang yo dari dulu.

    Paragraf terakhirnya lho hehe. Media-media mainstream. Wkwk mainstream sih, tapi masih diintip banyak orang tanpa bosan, toh?

    BalasHapus