Era ketika perempuan terkungkung dan mendapat perlakuan tak adil sesungguhnya telah berakhir ketika Islam datang. Islam menghadirkan cara pandang baru terhadap perempuan. Sebagaimana laki-laki, perempuan adalah manusia, hamba Allah yang sama-sama diciptakan untuk beribadah. Islam tidak memandang kemuliaan seorang manusia dari jenis kelamin, tapi dari ketundukannya pada risalah Sang Pencipta.

Perempuan pun punya kesempatan luas untuk berkarya dan mengamalkan ilmunya untuk kemaslahatan umat. Sebagaimana halnya laki-laki. Hanya saja, Islam memiliki aturan khusus ketika perempuan berkiprah keluar rumah, sehingga kemuliaan dan kehormatannya tetap terjaga.
  
Kamis, 19 April lalu, saya berkesempatan hadir dalam acara Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat –Khusus Perempuan- yang diselenggarakan oleh Alfamart bekerjasama dengan The Jannah Institute dan didukung pula oleh komunitas Bidadari Jember. Sekitar tiga puluh perempuan yang berkiprah di berbagai bidang duduk nyaman di Rumpi-Rumpi Home n Bistro, menikmati suguhan sesi per sesi pelatihan. Diantara mereka ada yang saya ketahui sebagai penulis, jurnalis, ada juga yang concern di bidang pertanian dan mayoritas adalah pebisnis kuliner.


Peserta menyimak pemaparan materi.
Dok. panitia


Pak Yosia, Branch Manager Alfamart menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program CSR Alfamart untuk masyarakat. Alfamart berharap dapat terus dekat di hati masyarakat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sesi pertama pelatihan adalah sharing dengan Mbak Dewi Uji, owner Mayar Shopping, yang sukses dengan bisnis recycle craft-nya. Bukan sekedar teori, Mbak Dewi mengajak peserta untuk membuat kerajinan tangan handicraft souvenir yang salah satu bahannya adalah serbuk kayu. Hasilnya? Undangan yang cantik, blocknote keren dan lainnya. Hmm... seru sekali. Membuat handicraft semacam ini tak melulu harus bermotif ekonomi. Bagi seorang ibu, ini adalah inspirasi untuk memperindah rumah atau melatih motorik halus anak sambil lebih mendekatkan diri dengan mereka dengan membuat karya bersama. Ini juga bisa melatih kepekaan estetika, mengolah jiwa untuk bisa mencipta keindahan, keserasian. Bukankah Allah indah dan mencintai keindahan?


Peserta Membuat Handicraft
Dok. panitia

Sesi kedua, Kak Prita membocorkan rahasia menulis caption yang menarik untuk medsos. Ya, seiring kecanggihan teknologi yang ada, instagram kini menjadi primadona. Instagram kini bahkan menjadi salah satu sarana memperkuat branding sebuah perusahaan atau produk. Kak Prita mencoba mengubah mindset pedagang, dari sekedar berjualan yang penting laku. Menjadi seorang pebisnis. Apa bedanya?

Pedagang tidak memiliki konsep. Tidak memperhatikan brand. Yang paling penting dalam hidupnya adalah yang penting dagangannya laris. Sedangkan pebisnis, memiliki konsep sebagai content creator, sangat memperhatikan brand, membangun interaksi dengan target pasar.

Salah satu akun instagram yang dibedah adalah @hijabalila. Tidak sekedar jualan hijab, @hijabAlila membangun sebuah brand sebagai merek hijab kekinian yang juga mengedukasi pasar dengan tsaqofah-tsaqofah Islam. Akun instagramnya kini diikuti oleh lebih dari empat ratus ribu orang.

Nah, untuk menulis caption yang menarik, ada lima langkah yang harus kita lakukan. Pertama, pikirkan konsep. Kedua, soft selling. Ketiga, caption dan gambar harus memiliki keterkaitan. Keempat, pakai bahasa sehari-hari. Kelima, interaktif. Bagaimana detilnya? Ikut kelas Kak Prita saja ya... :D


Kak Prita Membocorkan Rahasia Menulis Caption Menarik
dok. panitia


Last Session, Bu Vina dari Alfamart menyampaikan materi tentang bagaimana membangun kerjasama usaha dengan Alfamart. Alfamart membuka peluang bagi pelaku bisnis untuk menitipkan produknya. Beberapa kriteria produk yang harus dimilki adalah : kesesuaiannya dengan segmen Alfamart, ketersediaan tempat di toko, potensi permintaan pasar, tren penjualan barang, dukungan atas ketersediaan barang. Bu Vina menjabarkan bagaimana bagaimana pendaftaran supplier baru dan mekanisme pengajuan produk baru.

Pada dasarnya, bisnis atau jual beli telah dihalalkan oleh Allah. Dan siapapun yang memiliki usaha tentu ingin mengembangkan usahanya. Namun itu semua memerlukan tahapan dan perencanaan kerja yang matang. Jangan sampai, karena ambisi membesarkan bisnis, lalu kita terjebak riba. Na’udzubillah.

Saya sebagai owner Keripik-Koe tentu ingin produk saya lebih dikenal dan tentunya pemasukan saya bertambah. Tetapi saat ini bisnis saya masih di tangga ke-2 dari lima tahapan bisnis. Jadi, kalau memaksakan diri menawarkan Keripik-Koe ke Alfamart saya jelas bisa babak belur. He... tapi bagi yang telah memenuhi kriteria dan modal tersedia, tentu tak ada salahnya bekerjasama.

Acara semakin seru karena banyak sekali peserta mengajukan pertanyaan pada sesi diskusi. Bu Vina dan Pak Yosia dengan telaten berusaha menjawab satu per satu pertanyaan.

Ketika seluruh materi pelatihan usai dipresentasikan, doorprize pun dibagikan. Tak hanya itu, peserta berfoto bersama sehingga keakraban semakin tumbuh. Setelah ditutup dengan do’a, peserta pun menikmati nasi liwetan ala Rumpi-Rumpi. Hmm.. yummi... trancam dan urap-urapnya sungguh menggugah selera.


Peserta Menikmati Hidangan
dok. panitia

Jadi, para perempuan mari kita berkarya. Amalkan ilmu, tebar kemanfaatan untuk umat. Sebagaimana dahulu, para Shahabiyah telah memberikan karya terbaik mereka. []













Salah satu pendukung tulisan adalah foto. Kini, foto bukan sekedar untuk mengabadikan momen tertentu, tapi sama seperti tulisan yakni menyampaikan pesan. Ya, dunia telah berubah. HOS Cokroaminoto pernah berkata, “Jika kau ingin menjadi pemimpin maka menulislah seperti wartawan dan berbicaralah seperti orator.” Ya, karena teknologi canggih kala itu adalah percetakan dan radio. Evolusi teknologi membuat hari ini kita bisa menyampaikan pesan lebih mendalam dengan foto.


Pameran Buku Pada Acara Kongres Mahasiswi Islam untuk Peradaban

Bagi kita yang ingin menyampaikan lebih banyak pesan kebaikan, tak ada salahnya belajar teknik fotografi. Sehingga jepretan kamera kita bisa menjadi foto yang bercerita. Sebenernya memotret bukan hal baru bagi saya. Sebagai jurnalis sebuah media dakwah, begitu banyak yang telah terekam. Cuman sayangnya, meskipun cinta dan ada kepuasan tersendiri setiap melihat hasil jepretan, karena keterbatasan segala hal, bidang ini kurang ditekuni. Walhasil, saya hanya sekedar jadi fotografer ‘panggilan’ :D




Beberapa kali mengikuti kelas online fotografi, namun baru kali ini ditakdirkan mengikuti kelas off-line. Dengan pendampingan dan suasana yang full kekeluargaan. Ya, bersama teman-teman Exclusive Blogging Class yang diadakan The Jannah Institute, jadilah tiga jam ngilmu fotografi. Berhubungan kelas blog ini tidak hanya menyajikan teori tapi juga praktek, duduklah kami di Lantai 2 Eatery n Space Kafe KPRI di Jalan Sumatra. Suasana yang nyaman, tidak terlalu ramai. Cuman, suara musiknya sedikit mengganggu konsentrasi :D

Karena pada saat yang sama harus menyimak penjelasan dari Kak Prita HW dan Kak Nana. Ahamdulillah-nya, entah di menit ke berapa tak terdengan lagi suara musik.


Suasana Pertemuan ke-5 Exclusive Blogging Class


Sambil menyimak materi, kami mencicipi beberapa menu. Saya memesan roti bakar coklat dan es teh manis. Karena kebetulan Husna saya ajak, jadi pesen menu yang ramah balita. Bonusnya lagi, Kak Nana owner SR_dessert berbagi Just Kidding ke semua peserta kelas blog. Just Kidding ini lebih dari sekedar susu. Ada sensasi jeli yang bikin makin seger dan rasa makin istimewa. Rasa taro adalah favorit saya dan Husna. Selain ajak Husna, saya ajak adik ipar, Wati untuk jagain Husna :D





Bersyukur ternyata salah satu peserta kelas blog juga bawa anak-anaknya. Jadilah Husna bermain bersama. Paling seru bermain bersama Kak Azzam yang super aktif dan lucu. 


Bermain Cilukba

Pelajaran pertama dari Kak Nana adalah ilmu fotografi secara umum. Bahwa memang ada banyak teori fotografi. Namun, seorang fotografer tak harus selalu berpatokan pada semua teori itu. Teori hanya membantu untuk mendapatkan hasil jepretan terbaik. Kami pun disuguhi beberapa jepretan Kak Nana yang ciamik.

Menurut saya, memotret itu sama dengan menulis. Harus lahir dari hati, untuk mempersembahkan yang terbaik, menyebarkan kebenaran, kebaikan atau keindahan. Jadi, jika motret jangan cuma bawa kamera, bawa hati juga ya... Dan sedikit-sedikit ngerti macam-macam sudut pengambilan gambar. Seperti yang sudah dijelaskan Kak Nana. Setidaknya ada  jenis sudut pengambilan gambar.

Pertama, bird eye. Pada posisi ini, objek yang akan kita bidik berada jauh di bawah/lebih rendah daripada kita. Umunya digunakan untuk membandingkan antara objek dengan keseluruhan lingkungan.

Kedua, high angle. Hampir sama dengan bird eye namun tidak se-ekstrim bird eye. Posisi fotografer lebih tinggi daripada objek foto. Mungkin ini contohnya :D ... jadi saya ambil foto ini dari lantai 2. Point of interesnya adalah desain yang begitu artistik pada tangga. Menurut saya ya :D





Foto roti bakar ini juga saya ambil dari posisi lebih tinggi. Nampak begitu nikmat bukan?




Foto adik Tangguh di bawah ini juga diambil dari posisi high angle.


Adek Tangguh, Sholih dan tangguh ya Nak!

Ketiga, eye level. Sudut pengembilan gambar yang dimana objek dan kamera sejajar / sama seperti mata memandang.


KPRI UNEJ di Kompleks Cafe Jl. Sumatra, foto diambil dari lantai 2

Suasana di Pintu Masuk Kongres Mahasiswi untuk Islam dan Peradaban


Keempat, low angle. Pemotretan dilakukan dari bawah. 

Husna dan Ammah Sari di Lapangan depan Perpustakaan UNEJ


Salah satu orator di Kongres Mahasiswi untuk Islam dan Peradaban

Kelima, frog eye. Pada posisi ini kamera berada di dasar bawah, hampir sejajar dengan tanah dan tidak dihadapkan ke atas. Nah, pada foto ini saya meletakkan kamera tepat di atas meja sejajar dengan piring roti. Karena mau motret dari dasar lantai belum nemu objek yang pas :)


Roti Bakar Green Tea

Seperti yang disampaikan Kak Prita HW, dunia blog itu menyenagkan. Bukan hanya sekedar eksistensi. Tapi juga mengasah keratifitas dan pastinya bisa menjadi sarana menyebarkan konten positif. Berbentuk tulisan yang diperkaya dengan gambar atau hasil jepretan kita. Bagi saya, konten positif itu tak lain adalah Islam.

Dan benar juga bahwa dengan memiliki blog, kita akan menemukan banyak teman yang se-passion. Meski dunia blog belum seratus persen saya tekuni, tapi setidaknya saya mulai mendapat gambaran bahwa menulis tidak melulu hanya untuk dikirim media-media mainstream. But, we can make our own media. We can make our own headline!

Selamat nge-blog, selamat menulis kawan!

Selamat menyebarkan kebaikan!
oleh : Faiqotul Himmah
 
Begitu aku mengambil remote dan menyalakan televisi…. HHHUUEEEKKKK…. Kamu muntah. Padahal belum 15 menit yang lalu aku meninggalkan kamar dan kamu sedang tidur. Aku tahu kamu sedang sangat capek. Seharian di kantor, sampai di rumah, masih sibuk menyiapkan makan malam untukku. Bahkan, setelah itu, kamu masih membungkuk di depan laptop sampai dua jam yang lalu. Jadi, mana mungkin kamu terbangun hanya gara-gara aku keluar kamar dan menyalakan televisi? Apalagi sampai muntah!



Sumber : rapi-rumahku.blogspot.com


“Aku nggak papa…” ucapmu sambil menyalakan kran wastafel. Ku pijiti leher dan bahumu.

“Kamu terlalu capek.”

Ku tempelkan telapak tangan kiriku di keningmu.

“Kamu demam…”

“Aku nggak tau, tiba-tiba aku pusing dan sangat mual…” ucapmu susah payah. Sepertinya menahan rasa mualmu, menghormatiku dengan berusaha agar tak memuntahkan isi perutmu ke arahku. Dan benar… sebentar kemudian… HHHUUUEEKKK….. kamu muntah lagi!

Maka, gagallah malam itu aku menonton pertandingan tim kesayanganku.

***

Beruntung paginya aku libur kantor. Begitu koran datang, perhatianku langsung mengarah ke kolom olahraga.

“Yyeaaah!!!” teriakku gembira. “Tim kesayanganku menang!”

Ternyata kamu terkejut. Masih dengan pisau di tangan dan celemek, kamu menghampiriku di ruang tamu.

“Ada apa?”

“Menaaaaang….!!!” Ku balas penasaranmu dengan teriakan. Sambil mengacungkan tangan ke udara. Dan mendekatimu dengan riang.

“Tim kesayangan kita menang,” kataku sekali lagi.

Kamu diam. Responmu sungguh tak nyaman.

“Kita???”

Entah kenapa sahutmu tak ramah dengan kebahagiaanku.

“Iya. Tim kesayangan kita.”

“Aku sudah nggak gandrung sama bola,” katamu datar. Lalu membalikkan badan, dan pergi ke dapur begitu saja.

Oh, istriku… Aku mematung menatapmu sampai tubuhmu menghilang. Aneh, padahal dulu kamu penggila bola. Lebih aneh lagi, sekarang kamu segar bugar! Tak ada bekas sekaratmu semalam!

***

Malamnya, aku menyimak berita hari ini di ruang tengah. Setelah menyuguhkan tehhangat –kamu nggak bisa membuat kopi dan aku nggak suka kopi- kamu duduk di sampingku.

Kepuasan atas kemenangan tim kesayangan kita masih memenuhi rongga dadaku. Meski sedikit kecewa karna aku gagal menyaksikan pertandingannya secara langsung. Sibuk membersihkan muntahmu. Aku mengharapkan kamu mengobati kekecewaanku. Dengan memberikan senyum dan gairahmu kembali pada bola dan tim kesayangan kita. Dan itu aku katakan padamu.

“Tim kesayangan kita lolos ke perempat final,” kataku bersemangat. Lebih antusias dari yang tadi pagi aku katakan padamu. “Dan aku yakin terus melaju sampai final.”

Kamu tak menyahut. Aku tak menyerah. Aku sungguh rindu teriakan histeriamu saat pertandingan berlangsung, lalu kita rebutan berkomentar.

“Hei… inget nggak?” sekali lagi kucoba mengacau diammu.“Dulu kamu nangis histeris waktu tim kesayangan kita gagal memasuki final empat tahun kemaren. Dan aku ngumpat-ngumpat keras ampe rumah kita didatangi tetangga? Mereka pikir kita berantem! Hahaha….”

Kamu menoleh. Ya, cuma menoleh. Dan tersenyum datar.

“Aku nggak tau, kenapa dulu aku menggilai bola. Ternyata mesin uang. Yang menggusur spiritualitas, nurani dan etika,” kalimatmu menukik. Tajam.

Tawaku mengapung. Kamu seperti berubah peran dari istri yang penuh sayang dan menyenangkan menjadi pengabdi sosial kaya wawasan yang sedang berorasi di tengah lingkaran mahasiswa pemikir seperti yang dulu sering kamu lakukan. Oh sayang, ini bukan teater yang dulu sering kita mainkan!


Sumber : tribunnews.com


Aku menenangkan diri. Mencoba memahami nuranimu dengan hati. Mungkin karena kemarin kamu habis baca berita. Di balik pesta bola itu ada ketidakadilan. Pengusaha asli Afrika Selatan sangat dirugikan. Mereka tidak bisa menjual produknya yang berlogo dan berkaitan dengan piala dunia. Semua harus seizin FIFA. Dan itu tidak gratis. Atas nama hak cipta. Sampai-sampai sebuah headline media di Afrika Selatan menulis judul besar : “Welcome to the Republic of FIFA”. Resultan dari kemarahan, kekecewaan, kehilangan dan ketakberdayaan warga negara itu karena FIFA terlalu memegang kendali atas apapun yang berkaitan dengan piala dunia.

Juga mungkin, kamu mencoba berempati. Pada tetangga kita yang kalah taruhan. Rumahnya disita bandar. Sementara anak istrinya meraung-raung dan mungkin kini menggelandang.

Atau mungkin… kamu juga muak. Sepak bola yang dikapitalisasi itu benar-benar menjadi pesta –yang kamu bilang- menggusur spiritualitas, nurani dan etika. Empat puluh ribu pelacur siap ‘memeriahkan’ piala dunia dan karenanya pemerintah Afrika Selatan menyiapkan sejuta kondom. Keuntungan besar bagi korporasi dunia.

“Hhhh…. Ku rasa… kita bisa menikmatinya sebagai olahraga. Itu saja,“aku bersikeras. Naluriku pada bola tak bisa begitu saja dienyahkan. Aku mengganti channel. Review pertandingan bola sedang diulas salah satu program berita. Baru saja aku terbawa suasana, geram karna gol gagal diciptakan dan mulai menjadi komentator diluar layar….lalu…HHHUEEEKKK…!!!!

Spontan aku berjingkat dari sofa. Cuma bisamelihatmu berlari ke kamar mandi. Terpaksa ku matikantelevisi dan menyusulmu. Dengan kedongkolan yang menggumpal di tenggorokanku.

***

Untuk pertama kalinya sepanjang pagiku bersamamu, aku begitu tidak bersemangat. Meskipun sejak dini hari kamu sudah bangun dan kamu masakkan sarapan kesukaanku. Juga sudah memberikan senyum terbaikmu. Segar dan penuh energi seperti ratusan pagi kemarin tiap aku akan ke kantor. Tapi justru karena pagi ini kamu begitu segar dan penuh energi, aku jengah.

Aku mulai merasa, muntah-muntahmu itu hanya akting. Hanya untuk mencegahku menonton bola. Bayangkan, tiap kali aku menyalakan televisi untuk menonton bola, tiap itu pula kamu langsung muntah-muntah. Kamu tahu, aku takkan tega membiarkanmu kesakitan. Lalu paginya, kamu sudah tampil segar bugar. Dan beraktivitas seharian seperti kesibukanmu biasanya. Dan tidak lelah. Lelah pun, kamu tetap riang menemani dan menyiapkan kebutuhanku. Ah, mengingat sejarah masa lalumu, siapa yang meragukan kemampuan aktingmu! Tapi, sampai menyakiti diri sendiri seperti ini hanya karna kamu sudah tidak menyukai bola? Sungguh, susah ku terima. Tapi ini fakta!

Kamu mengernyitkan dahi. Mimik wajahmu berubah. “Akting??” tanyamu. Wajahmu pias. Wajahmu pias. Hampir tak pernah kulihat kamu begitu. Sejak aku mengenalmu dan menikahimu. Hingga pagi ini.

“Aku mengerti kepekaan dan kepedulianmu yang tinggi. Aku mengerti kamu coba berempati dengan kemelaratan negeri ini karena kuasa-uang. Tapi kita tidak sedang bermain teater.”

Sendok di tanganmu terjatuh ke meja, lalu mental ke lantai. Bintang-gemintang berloncatan di matamu. Kamu menangis! Ya Allah, kamu menangis!

Kamu ternyata begitu terluka. Aku mulai galau. Kelirukah? Tapi keanehan ini begitu sulit diterima. Kamu mual dan muntah tiap kali aku menonton bola!

Untuk pertama kalinya dalam pernikahan kita, kamu meninggalkan meja makan sebelum aku menghabiskan sarapan.

***

Sungguh hari ini tak menyenangkan. Aku meninggalkan rumah tanpa senyum dan do’a darimu. Di kantor, aku dapat limpahan tugas karena temanku tak masuk kerja. Istrinya yang lagi hamil minta dibelikan apokat. Kalau tidak, dia nggak bisa makan. Padahal ini bukan musim apokat. Jadilah temanku itu berkelana mencarinya. Dan tugas-tugasnya membebaniku. Sementara otakku sedang sumpek. 


Sumber : Hargaterbaru.top



Tapi sebentar… sesuatu berlompatan di otakku. Istrinya yang lagi hamil, ngidam. Ya, itu namanya ngidam. Dan aku mulai ingat sesuatu. Bukankah perempuan kalau lagi hamil bawaannya mual? Aku mulai menjelajah internet. Benar. Aha!!!

***

Sore ini aku masuk rumah dengan tergesa. “Aku belikan buah-buahan untukmu,” kataku penuh semangat. Di tanganku ada sekantong apel. Di tanganku yang lain, ada sekantong berisi vitamin dan berbagai makanan suplemen. Aku menyorongkannya padamu. Kamu menerimanya dengan heran.

“Aku nggak sakit. Aku juga nggak tahu kenapa akhir-akhir ini aku sering mual dan muntah. Kamu lihat, kan? Aku beraktivitas seperti biasa. Dan aku sehat.” Kamu menjelaskan. Sepertinya kamu menduga kalau aku merasa bersalah telah menuduhmu berakting dan menyadari kalau kamu memang sedang sakit.

“Maafkan… tadi aku khilaf. Tidak seharusnya aku menuduhmu berakting.”

Kamu mencoba tersenyum. Aku tahu kamu masih luka dengan tuduhanku. Bagimu, seorang istri, tentu tuduhan seperti itu menyakitkan.

“Mulai sekarang, kamu nggak boleh terlalu capek.”

“Tapi aku sehat. Aku juga merasa aneh. Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba aku…”

“Ya sudah. Pindahkan saja barang-barang itu ke kulkas. Mulai sekarang, aku yang bertugas bersih-bersih rumah tiap pagi, ok?”

Matamu berbinar. Aku menyuruhmu cepat ke dapur dan tak perlu banyak bertanya. Aku merasa, aku ini sudah begitu bodoh. Sampai tak menyadari kamu hamil. Bahkan menuduhmu berakting. Tapi ternyata, kamu lebih bodoh. Hehe… Tak menyadari kalau dirimu hamil. Padahal kamu perempuan pintar dan berwawasan.Apa karena kita terlalu lama menunggu bayi dan beberapa kali kecewa sehingga sekarang kita tidak begitu peduli lagi? Ah, tidak juga.

***

Aku terus memperhatikan kamu, tapi kamu tak juga sadar kalau kamu hamil. Kata orang, perempuan yang hamil muda itu memang aneh-aneh. Ada yang muntah-muntah kalau mencium bau badan suaminya sendiri. Nah, kamu muntah-muntahnya kalau aku menonton pertandingan sepak bola.Hubungannya apa? Aku juga tidak tahu. Aneh.

Aku sangat asyik memperhatikan tingkahmu. Sampai kadang membuat kamu jengkel. Beberapa kali aku riset. Waktu kamu duduk denganku di depan televisi, lagi serius dengan berita ledakan elpiji, aku mengganti channel ke berita olahraga. Dan benar. Kamu yang awalnya sangat sangat sehat langsung mual-mual. Aku ganti lagi channelnya. Mualmu berhenti.

Tengah malam, saat aku yakin kamu sudah tidur nyenyak. Aku bangun dan menyalakan televisi. Padahal volume televisi di ruang tengah sudah ku minimalkan. Sebentar kemudian, telingaku menangkap suaramu yang mual-mual di kamar.

Tidak puas menguji keanehanmu. Aku datang membawa kaos pemain bola idolamu. Sengaja aku membelinya dari sebuah distro dengan harga lumayan mahal. Begitu kaos itu ku tunjukkan, kamu langsung berlari ke kamar mandi dan muntah! Aneh!

Tapi biarkan sajalah, setidaknya aku tidak lagi berfikir kalau kamu lagi akting. Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana jadinya kalau kamu tahu aku sengaja menggodamu. Memancingmu untuk muntah. Demi kepuasanku. Karena sekarang, tiap kali kamu muntah karena bola, aku bahagia!

“Kalau aku punya anak, aku akan bentuk dia jadi pemain bola. Biar dia mencicipi merumput di old traffold dan jadi idola.”

Wajahmu langsung pucat. Tanganmu bergerak memegangi perutmu. Satunya lagi menutup mulutmu.

“Hahaha…enggak deh, gak jadi. Dididik jadi ulama’ aja deh.”

Wajah pucatmu langsung berubah cerah. Gila sungguh! Memang seperti akting. Tapi keringat dingin yang muncul tiap kali kamu mual dan wajahmu memucat tentu bukan buatan.


Sumber : Islamidia.com



***

Sudah lewat seminggu tapi kamu belum juga sadar. Aku semakin geli dengan kebodohanmu. Kemarin baru saja kamu menunjukkan kejeniusanmu. Dipuji banyak orang karena berhasil mengorganisir event besar. Muda, berkarir, berprestasi dan bersuami. Tapi sebagai perempuan, kamu malah gak peka sama kondisi tubuhmu sendiri.

Maka aku memutuskan memberimu kejutan. Menyadarkanmu dengan cara yang spesial. Dan membuatmu –bersamaku- menertawakan kebodohanmu dan kebodohanku. Aku sudah tidak betah bahagia sendirian. Sudah tidak betah untuk membicarakan dan merancang sambutan dan pendidikan terbaik untuk bayi yang akan kamu lahirkan. Ah!

“Kenapa kita harus ke dokter?”

Aku memasang jaket. Bersiap berangkat. “Ayo,” kataku sambil tersenyum lebar.

Kamu heran. “Aku sehat. Sungguh. Dan aku sama sekali tidak berakting…”

Aku menggamit tanganmu. “Tenang saja. Aku percaya,” ucapku mantap. Aku hanya ingin melihat histeria bahagiamu saat dokter bilang : Selamat, Istri Anda hamil! Batinku.

Perjalanan terasa begitu singkat. Beruntung tak terlalu banyak pasien yang antri.

“Bagaimana, Dok?”

Dokter tersenyum. Aku pun tersenyum. Kebahagiaan mengapung di udara sekitarku.

“Istri Anda sehat.”

“Maksud dokter?”

“Istri Anda sehat. Tidak ada masalah apa-apa dengannya.”

Dahiku mengkerut. “Dia tidak hamil?”

“Tidak.”

“Tapi dia… sering mual dan…”

“Istri Anda sangat sehat.” Dokter kembali tersenyum. Menegaskan.

Aku terhempas ke kursi.

Kamu menatapku. “Kan?”

Senyumku hilang. Pias datang. *)

***



Jember, 07 Juli 2010

*) penulis berumah di phei_13@yahoo.com
dimuat di Radar Jember, September 2010

NGIDAM

by on April 01, 2018
oleh : Faiqotul Himmah   Begitu aku mengambil remote dan menyalakan televisi…. HHHUUEEEKKKK…. Kamu muntah. Padahal belum 15 menit ya...