Romantisme dan Feminisme


Sepiring siomay berdua. Di tengah rintik hujan sore tadi. Wah, romantis ya. Terlebih, siomay ini hadiah dari suami. Suami yang traktir karena sparepart sepeda jualannya laku. Asyik, nggak usah merogoh uang belanja. πŸ˜ƒ

Sebenernya pingin, mengabadikan momen romantis ini. Sayang, suami tipe pemalu yang nggak suka selfie - selfie. Jadi... cukup lihat foto semangkuk siomay ini saja ya.



πŸ’–

Bagi kami, bisa jajan siomay seharga 10 ribu ini sudah sangat istimewa. Maklum, kami belum termasuk kalangan berpunya. Alhamdulillah, rizki yang Allah beri sangat cukup untuk membuat kami bertahan hidup dari bulan ke bulan πŸ˜‚

Ingat sepiring siomay, jadi ingat sepiring empek-empek saat suami baru pulang dari Bogor Maret tahun lalu. Nggak terasa, sudah setahun.

Jadi ceritanya... suami diterima kerja di sebuah lembaga pendidikan dan harus mengikuti diklat selama hampir 3 bulan di Bogor. Untuk pertama kalinya kami berpisah jauuuuuh dan lamaaa. He

Sebenernya dia merasa berat. Karena baby Husna waktu itu baru berumur 6 bulan. Tapi, tuntutan kewajiban, membuatnya harus membesarkan hati.

Meski gaji tak seberapa, tapi suami bangga. Karena ini adalah pekerjaan formal pertamanya. Bangga karena telah menjalankan kewajiban. Jadi, waktu saya minta dibelikan kerudung baru, dituruti.

Pulang dari Bogor.. suami ngajak jalan-jalan. Saya butuh inner kerudung, dibelikannya dua. Pertama kali masuk Mey Fashion bareng suami. Nggak berani sentuh gamisnya yang mehong-mehong, cukup minta inner aja seharga 15rb-an. Saya nggak mau suami terbebani. Karena merasa nggak mampu belikan istri baju mahal. Dan dibelikan inner aja itupun sudah senang sekali. Karena aurat bisa dengan rapi tertutupi. Alhamdulillah.. dia jaga saya dari api neraka.

Setelah itu... kami beli empek-empek. Sepiring berdua. Saya enggak tega mau minta beli 2 porsi. Karena saya tau, gaji suami yang cuma 750rb itu telah dia bagi dua. Separuh untuk biaya hidupnya di Bogor dan sisanya untuk saya.

Tapi yang jelas... kami bahagia. Kebahagiaan jelas tidak bisa diukur dengan harga.

Saya bahagia karena telah qana’ah dengan pemberian suami (insyaAllah). Suami bahagia karena sudah bisa nraktir istrinya πŸ˜„

Semenjak menikah, saya memang memutuskan tidak bekerja. Meski mungkin, secara logika dan matematika rizki manusia, saya berpeluang punya gaji lebih besar dari suami. Karena banyak bidang membutuhkan keahlian sarjana matematika.

Tapi saya bahagia, sukses menurut saya adalah ketika kita taat pada Allah dan meninggalkan ambisi dunia kita.

Dan... prinsip kami, keluarga adalah ibadah. Allah telah gariskan peran masing-masing. Suami sebagai qawwam, pencari nafkah dan pendidik istri dan anak. Istri sebagai ibu rumah tangga dan pendidik anak.

Dan kami bahagia. Meski saya harus sering lelah dan bosan dengan cucian yang menggunung, rumah bak kapal pecah, dapur berantakan. Rasa syukur selalu ada.

Bahwa wanita, ada di dunia juga untuk menghamba pada Rabb-nya.

Inilah kebahagiaan yang tak akan pernah dipahami oleh para feminis. Yakni mereka yang menganggap, sempurnanya aturan Islam bagi wanita adalah bentuk diskriminasi.

Bagi mereka, risalah Ilahi yang menempatkan suami sebagai qawwam dan pencari nafkah, sementara perempuan harus taat pada suaminya dan cukuplah dengan menunggu nafkah dari suami untuk cukupi keperluannya, adalah penindasan bagi wanita.

Bagi mereka, tak wajibnya perempuan bekerja membuat perempuan miskin dan tak mampu mengambil keputusan dalam hidupnya.

Cara pikir yang meminggirkan wahyu...

Karena itu, mereka tak akan pernah memahami kebahagiaan seorang muslimah kala taat pada Rabb-nya. Mereka tak akan pernah memahami, kebahagiaan muslimah kala suaminya ridlo terhadapnya.

Mungkin mereka juga tak akan memahami, kebahagiaan kami kala menikmati sepiring siomay berdua😊

Feminis kan maunya setara... jadi kalo suami 1 piring, mereka mau 1 piring pula. Kalo suami 2 piring, mereka 2 piring pula. Kalo suami 5 piring? Ya istri 5 piring juga dong! Kalo enggak, namanya diskriminasi πŸ˜‚

Ya sudahlah... kita para muslimah jangan ngikutin mereka. Kita punya Islam, yang telah memuliakan perempuan 😊

πŸ’–πŸ’–πŸ’–





19 komentar:

  1. Speechless mbak mau komen apa.. perasaanq terwakilkan.. masyaAlloh mbak.. aku pengen nulis yg kaya gini tapi blm bisa apa daya.. mohon bimbingannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mb Kariiin.. kebalik.. aku yang butuh bimbingan.. Konten di blog mb Karin oke2. Hayuk mb, kita collab yuk. Mumpung lg ada peluang nulis buku dr GIP.

      Hapus
  2. Masya Allah😍😍😍 aku menikmati tulisan ini dr awal sampai akhir. Uhui, gafok ke siomaynya,hehe. Lucu juga gagasan feminisme itu ya, andai mrk tau, indahnya yg sdh digariskan Islam 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senengnya dikomen ama guru πŸ˜„
      Thanks segala ilmunya ya mb.
      Kapan2 kelasnya di warung siomay aja..ups

      Hapus
  3. πŸ‘πŸ‘πŸ‘,wanita adalah special...ga harus jadi weww untuk mendapat predikat woww...feminisme adalah ke wow an seorang muslimahπŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mb, tiap kita adalah makhluk istimewa dr Allah😘

      Hapus
  4. "Bangga karena telah menjalankan kewajiban."

    dan

    "Alhamdulillah.. dia jaga saya dari api neraka."

    MasyaAllah Ines suka. Qonaah itu memang tidak akan ada tapi jika teman hidupnya pun bertakwa. Barakallah mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      Semoga ines segera menemukan teman hidup ke surga.

      Hapus
  5. Wah, gitu ya.. kalau ikhlas, segala yang sulit terasa jauh lebih mudah untuk dijalani.
    Cerita genre begini saya jadikan bekal buat ke masa depan mbak. pelajaran berharga banget. Hehehe, apalah daya saya yang masih single fii sabilillah. =D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Doa yg sama untuk Nia ya.. semoga cpt ketemu dg temen sehidup sesurgaπŸ˜‡

      Hapus
  6. Baper nya MasyAllah:')
    Baper sepeti sy yg belum menikah ini mbaak hihi
    Jadi pengen ngerasain apaa yg ada di tulisan mbaak sm suamiku kelak
    #eh wkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kelak, Al dan suami jauh lebih baik dari kami. Aamiin

      Hapus
  7. Memang logika ngga akan pernah bisa mengalahkan dalil ya, mba. Mulia bgt kedudukan perempuan dalam Islam.
    Suka sama tulisan mba faiq 😍😍

    BalasHapus
  8. Siomaynya keliatannya enak ya 😁
    Kalo biasanya kata orang apapun makanannya minumnya teh botol sos*o, nah ini apapun makannya makannya sama suami πŸ˜…
    Makanan biasa aja pasti berasa nikmat banget ya 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata Allah...

      Waj'alna baynakum mawaddatan wa rahmah

      Hapus
  9. Jadi inget awal nikah dulu, Mba
    Mrebes mili
    Apapun indah jika bersana dg kekasih halal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, semoga.saya bisa mengikuti jejak mba miyosi

      Hapus
    2. Wah, semoga.saya bisa mengikuti jejak mba miyosi

      Hapus