Sempurna

Mayoritas penghuni bumi mengatakan aku bodoh. Bukan lantaran IPK-ku jelek. Juga bukan karena berkali-kali aku gagal seleksi beasiswa S2 ke luar negeri. Tapi karena aku memutuskan hubunganku dengan Ardi! 
What’sss???!!! Sinting!” Begitulah ekspresi sahabat-sahabat tercintaku.
Ardi adalah sosok sempurna. Kebagusan fisiknya seimbang dengan kebaikan hatinya. Intelektualitasnya ditunjang dengan kreativitas. Dimana kakinya berpijak, disitu pasti ada gairah berkarya.Karena itulah dia digemari. Aku pun tak kuasa mengelak saat ia menawariku hari berpelangi.
Tapi semua berubah saat aku terhenyak dengan statusku sebagai muslim. Ya, muslim! Baru aku bisa merenungi konsep Islam yang gamblang tentang pergaulan : la taqrabuz-zinaa1)terjadilah keputusan itu. Selanjutnya adalah hari-hari penuh elegi. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dilupakan. Menyiksa!
Hana punya pacar baru, lebih keren dari Ardi. Ngilu hati ini saat kalimat itu pula yang meluncur dari mulut Ardi. Engkau bagiku adalah sempurna, Ar… tapi salahkah bila aku ingin menyempurnakan ketaatan pada-Nya? Batinku terisak.
Gagal menemukan orang yang bisa dituduh sebagai pacar baru, muncullah gossip: Hana dijodohkan!Secepat aliran lahar dingin Merapi gosip itu menyebar. Lalu disepakati sebagaikebenaran pasti saat aku dinilai melakukan kebodohan kedua : menolak lamaran Ardi!
“Aneh, kamu Na! Kurang apalagi? Ardi juga udah berubah alim. Nggak sembarangan ma cewek, aktivis pula! Apa kamu nggak tambah cinta sama dia?!” cerocosFaya, sahabatku.
“Justru karena perasaan cintaku ini, Fay…”
Di otakku melekat sebuah hadist yang membuatku gelisah. Barangsiapa memberi karena Allah, tidak memberi karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah dan menikah karena Allah berarti telah sempurna imannya.2) Mengendurkan senyum yang membuncah saat kali pertama mendengar Ardi berucap, “Jadilah istriku…”. Bahagia membayangkan menjadi ratu di hati Ardi dengan restu-Nya.Tapi… alasan apa aku menerimanya? Benarkah karena keislamannya? Atau karena memang sejak dulu aku mengharapnya? Allah… sulit memastikan diri ini ikhlas karena-Mu semata.
Berjuta pertanyaan muncul. Bagaimana kalau yang melamarku bukan Ardi? Apakah aku akan menerimanya? Ah, sekali lagi aku berjibaku dengan diriku. Untuk memastikan aku objektif, ku tolak lamaran Ardi. Faya pun mengumpat, “What a stupid girl!”
Ujian imanku belum usai. Belum pudar perasaanku terhadap Ardi, gossip itu menjadi kenyataan. Ayah menjodohkanku! Ternyata sulit memasukkan lelaki lain ke hati ini. Tapi, demi kesempurnaan iman, ku terima perjodohan itu dengan berat hati. Secara objektif, dia jauh lebih baik dari Ardi. Ku tata hatiku untuk ikhlas menerimanya. Perlahan, nama Ardi gugur. Berbekal biodata di e-mail dan dua kali bertemu, aku mantap. Allahu… damainya hati ini. Kebahagiaan menyeruak. Hingga kemudian…
“Maaf, Hana. Ibuku tetap tidak setuju. Sudah ku jelaskan tentangmu tapi beliau tetap menginginkan menantu lulusan pesantren.”
Tulangku serasa lolos satu-persatu. Batal menikah saat tinggal menentukan hari! Aku sarjana sains bukan santri! Biarpun sekarang aku berjilbab dan terlibat dalam dakwah, orang awam bisa saja menyangsikan pemahaman agamaku.
Setelah itu… tertatih-tatih ku rangkai kembali cita-citaku akan kesempurnaan iman. Membunuh asa, menyibukkan diri dengan seleksi-seleksi beasiswa S2.
***
“Hana, mau nggak nikah dengan keponakan Bapak?”
Aku terkesiap. Prof. Fahmi, pembimbing tesisku, menjodohkanku dengan keponakannya? Setelah dua tahun ku abaikan keinginan itu, fokus pada pilihanku untuk S2. Aku sangat mengenal pribadi beliau, sehingga aku yakin beliau tidak akan sembarangan.
“Dia baru dapet gelar master. Insya Allah agamanya bagus. Sejak semester lalu, dia sudah dikontrak untuk kerja. Namanya Fatih.”
Aku keluar dari ruangan Prof. Fahmi dengan galau. Belum ada kecondongan menikah. Tapi, kenapa juga aku nggak mau menikah? Bukankan menikah adalah separuh agama? Apakah aku masih trauma? Duh, Rabbi… inikah lagi jalan untuk kesempurnaan itu?
Aku tak banyak bertanya tentang sosok Fatih. Tak juga ingin bertemu dengannya. Foto yang dikirimkannya ke e-mailku pun enggan ku buka. Kali ini aku ingin netral. Netral, sehingga tak perlu terlalu sedih jika gagal. Benar-benar ingin ku sempurnakan jalanku menuju kesempurnaan iman itu. Setelah istikhoroh berkali-kali, ku terima tawaran Prof. Fahmi.
Dan, aku sangat takjub saat bertemu dengannya. Tepat di hari akad pernikahan kami. Allahu Akbar, seketika pipiku merona. Tak dapat ku sembunyikan pendar bahagia itu. Sekilas… ku lihat dia tersenyum. Usai akad, kami pun menapak kehidupan baru.
Keponakan Prof. Fahmi yang dipanggilnya Fatih itu ternyata Ardi! Ya, lelaki yang sekarang tertidur pulas di samping bayi yang sebulan lalu ku lahirkan adalah Langit Biru Lazuardi. Dia kini suamiku, lalu bagaimana aku tidak mencintainya?
Allah… rencanamu maha sempurna!


Note:
1)La taqrabuu az-zina : janganlah mendekati zina (terdapat dalam al-Quran surat al-isra’ : 32)

5 komentar:

  1. Selamat ya, postingan pertama biasanya bakal memorable. Cerpennya bener2 skenario yg sempurna ya, apa jangan2 based on true story penulisnya *eh :D

    Btw fotonya nyambung kok, kan sekarang jadi sempurna beneran di foto itu, insyaallah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha.. bukan mbak. itu cerpen lomba dengan tema sempurna. :)

      aamiin...

      Hapus