Sakinah Tanpa Seks Bebas


Beberapa waktu lalu masyarakat Jember dihebohkan dengan penemuan mayat bayi yang masih lengkap dengan tali pusarnya tengah dimakan dua ekor biawak di aliran Sungai Bedadung. Sungguh tragis dan menyedihkan! Kepala hingga leher bayi malang tersebut habis menjadi santapan biawak. Diduga bayi tersebut merupakan hasil hubungan gelap (zina) dan sengaja dibuang orang tuanya. Siapapun yang masih memiliki nurani pasti akan terpukul dan tersayat dengan tragedi kemasuniaan ini.

Belum tuntas penyelidikan peristiwa ini, masyarakat Jember kembali disuguhi berita dukun pijat bayi yang membuka layanan tambahan yakni aborsi. Praktek yang sangat rapi antara dukun pijat, perantara dan pasien. Masyarakat paham bahwa tertangkapnya Misrati, sang dukun pijat, hanyalah fenomena gunung es. Masih banyak praktek aborsi yang tidak terekspose media atau terendus polisi.

Ibarat kata pepatah, tak ada asap kalau tak ada api. Pembuangan bayi dan aborsi “hanyalah” implikasi dari syahwat manusia yang tak terkendali. Bayi-bayi mungil menjadi korban dari rusaknya moral orang tua mereka. Hubungan gelap, seks bebas, alias zina adalah penyebab maraknya pembuangan bayi dan praktek aborsi. Bayi-bayi mungil itu tak dapat merasakan sakinah dalam kasih sayang orang tua mereka.

Seks bebas, saat ini seolah menjadi bagian dari gaya hidup. Tidak hanya ada di kalangan masyarakat kota. Tapi juga menembus dinding-dinding rumah masyarakat desa melalui sarana paling ampuh, televisi dan internet. Merebaknya seks bebas, merupakan salah satu ancaman nyata bagi kesakinahan keluarga. Betapa tidak, seks bebas apabila dilakukan oleh anak akan menghancurkan hati dan harapan orang tua. Apabila dilakukan oleh salah satu pasutri, akan meretakkan hubungan, memicu pertengkaran dan dapat berakhir pada perceraian. Seks bebas, hakikatnya adalah musuh yang harus diperangi setiap keluarga.




Banyak faktor yang membuat seks bebas kian hari kian digemari. Bahkan meskipun dampak dari perilaku maksiyat nan keji ini telah Nampak secara kasat mata. Adanya berbagai penyakit menular seksual yang mengerikan, pembuangan bayi dan praktek aborsi yang menurunkan manusia ke derajat hewani.

Lemahnya iman, kuatnya rangsangan seksual melalui berbagai tayangan-tayangan dan gambar porno, gaya hidup yang lebih mementingkan kesenangan duniawi, masyarakat yang kurang peduli dan system hukum yang tak berkutik menghadapi para pelaku seks bebas adalah lingkaran yang menyebabkan seks bebas tumbuh subur. Pangkal dari semua ini adalah diabaikannya Islam dalam kehidupan. Islam disempitkan hanya sebatas ibadah ritual, syari’atnya yang lengkap dan sempurna tidak lagi dijadikan pedoman menjalani kehidupan.

Tentu kita tidak menginginkan ada lebih banyak lagi bayi dibuang atau dibunuh sebelum sempat menyapa dunia. Tentu kita tidak menginginkan, sebuah prahara ada dan lestari dalam kehidupan keluarga akibat ancaman seksbebas. Tentu kita tidak menginginkan, adzab Allah dating memenuhi “undangan” kita. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita melirik kembali pada Islam untuk menghentikan tragedi kemanusiaan ini. Islam tidak mengekang naluri seksual, akan tetapi Islam juga tidak membebaskannya sehingga menjadi liar. Islam mengaturnya agar tersalur mulia dalam sebuah ikatan pernikahan. Dengan syari’at pernikahan inilah terbentuk sebuah lembaga bernama keluarga. Hubungan yang ada di dalamnya dijalani dengan penuh tanggung jawab karena merupakan bagian dari ibadah. Keberadaan anak pun, dimaknai sebagai amanah dan sebuah investasi di akhirat. Islam mengharamkan penelantaran bayi-bayi apalagi membunuhnya!

Penanaman keimanan dan penjagaan terhadap syari’at Islam inilah yang akan menghentikan mewabahnya seks bebas berikut implikasinya dan akan menjamin kesakinahan keluarga. Wallahua’lam. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar