Mencintai Suami

Menikah 22 Agustus 2014.
Berteman di facebook 26 Agustus 2014. Tepat empat hari setelah menikah.

Begitulah.

Telah menjadi komitmen saya u/ tidak bermain2 dengan rasa merah jambu. Memeliharanya diluar akad, ibarat janin tumbuh di luar rahim. Bukan habitatnya dan berbahaya.

Bukan karena tidak pernah jatuh cinta, bukan. Saya normal seperti Anda. Justru karena sdh merasakan pahitnya cinta tanpa bimbingan Islam yang sempurna.

Terlebih setelah ngaji saya diajari, bahwa rasa cinta adalah buah dari naluri melestarikan jenis (gharizah nau'). Karakteristik gharizah ini adalah, muncul saat ada rangsangan dari eksternal, bisa dialihkan dan pemenuhannya tidak bersifat pasti. Maksudnya, jika tidak dipenuhi tidak akan membawa pada kematian.

Dari konsep ini, sejatinya cinta hanya karena naluri itu mengerikan dan rapuh. Ia hanya akan menjadi sumber kegelisahan berkepanjangan. Sumber kegetiran, dan kebahagiaan yang ditawarkannya akan cepat menguap bersama sinar mentari. Tragisny, kalo faktor eksternal pemicunya hilang, maka hilanglah cinta.

Dan di hadapan kita sudah bertaburan, korban2 dari ikatan rapuh ini.

Maka saya azzamkan. Saya tak ingin lagi jatuh cinta. Yang saya ingin dan harus adalah membangun cinta. Dalam bingkai pernikahan.

Cinta dibangun persis setelah ijab qabul terucap. Titik.

Maka sepanjang proses ta'aruf, tak ada tukar nomor HP, tak berteman di fb, tak ada sama sekali komunikasi langsung.





Hanya 3x bertemu bersama ustadz dan ustadzah yg menghubungkan, salah satunya ustadzah Lailin Nadhifah (barokallah mb...). Sekali di rumah saat proses khitbah. Sekali di rumahnya sebulan setelah khitbah. Sudah. Padahal masa ta'aruf, khitbah hingga menikah cukup lama...1 tahun.

Selebihnya? Hanya 1 buah surat. Yang ditulis tangan oleh suami, ttg azzamnya melanjutkan ta'aruf ke khitbah. Yang lain2, diurus oleh ustadzah dan kakak laki2 saya.

Ketika beberapa kali harus ke rumah u/ menentukan tanggal dan teknis pernikahan, lewat ustadzah, saya beri nomor HP ayah saya. Krn menurut sy, itu urusan beliau dengan wali saya.

Ketika beliau ingin mengenal diri saya & keluarga lebih dalam, lewat ustadzah, sy beri nomor HP kakak saya. Dan beliau berurusan sendiri dan langsung dengannya.

Nggak ada urusan dengan saya....

Kaku? Mungkin iya. Tapi itulah cara saya menjaga, spy tidak tumbuh benih2 cinta sebelum akad. Karena saya cukup mengerti kelemahan diri ini...

Karena juga, ta'aruf & khitbah hanyalah ikhtiar... sementara jodoh tetap Allah yg tentukan. Banyak kita temui, tanggal telah ditentukan, bahkan undangan telah disebarkan, tapi batal menikah. Dan itu akan sangat sakit jika benih cinta telah tumbuh membesar.

Sy tdk mau. Sdh cukup. Sudah cukup banyak sy saksikan kemalangan akibat cinta liar ini.

Bahkan dalam do'a sy pinta, "ya Allah... nikahkan hamba dengan org yg tidak mengenal hamba dan hamba pun tidak mengenalx."

Supaya apa? Supaya netral. Pilihan hanya didasarkan pada perintah2 Islam.. bukan perasaan. Dan supaya posisi kita sama. Sama2 membangun cinta dengan aqidah pondasinya.

Allah Maha Luar Biasa...
Allah mengabulkan jika kita bersungguh2 meminta.

Dan alhamdulillah... anugrah Allah luar biasa. Dia karuniai suami, seperti yang sy pinta dalam doa2.

"Yang mencintaiMu, mencintai Rasul-Mu, mencintai perjuangan menegakkan agamaMu. Yang lembut. Yang hatinya mudah disentuh oleh al-Quran dan hadist. Yang bertanggung jawab. Yang menerima hamba dan keluarga hamba. Yang tidak merokok..."

Banyak ya yg diminta. 😊

Saya juga ingat pesan ustadzah Nauroh Alifah. Bahwa jangan berharap awal menikah langsung bahagia, penuh cinta berbunga2.

Pesan ini sy pegang kuat. Awal menikah sungguh ujian keikhlasan dan kesabaran. Menyatukan 2 kepala dg pola asuh berbeda bukan hal mudah.

Laiknya orang membangun rumah, rumah tdk bs ditempati dan dnikmati saat itu juga. Dan ini adalah masa2 membangun cinta, menikmati indahnya tidak dalam proses yang sekejap mata.

Allah Maha Menepati Janji, Ar Rum ayat 21, Allah berjanji menurunkan mahabbah pd yg menikah karena ketaatan padaNya. Yg menikah mencari ridloNya.

Membangun cinta pada suami karena Allah, mencintai suami karena Allah. Menjadikan ridlo Allah tujuan, sungguh inilah sakinah.

Tidak akan takut mengingatkan suami kala salah, semata mengharap ridlo Allah. Semata mencintainya karena Allah.

Akan selalu mendukungnya dalam ketaatan pada Allah. Semata ingin bersama2 dalam surganya Allah....

3 tahun pernikahan kami, mhn doa semoga Allah sll ridloi dan jaga kami...



6 komentar: