Sudah hampir setahun mbah pergi.
Saya yang memang tidak setiap hari bersama beliau, sering merasa bahwa beliau belum pergi.

Mbah yg sangat menyayangi Husna.
Terakhir bertemu, saat mampir ke rumahnya bersama mertua dan adik2 ipar.

Dg kondisi yg sangat lemah. Untuk bernafas saja butuh perjuangan. Tak jelas apa yang diucapkan. Mata seolah enggan membuka.

Tapi ketika melihat Husna, ada binar bahagia. Tiba2 beliau tersenyum. Di tengah lelahnya menahan sakit.

Semoga Allah mengampunimu, Mbah. 

Satu yg selalu aq kagumi. Semangat ibadahmu. Sholat lima waktu tak pernah terlewat. Tahajud dan dzikir meski harus ke kamar mandi dengan merangkak.

Aurat yg selalu tertutup. Sangat malu tak berkerudung di hadapan ajnab.



Semoga kali meneladi taatmu mbah... 
Semoga menjadi pahala yg mengalir untukmu.

Menyadari mbah telah pergi,
Hanya tinggal cerita kini.
Saya pun akan pergi.
Dan hanya akan jadi cerita bagi anak cucu nanti.

Semoga yg mereka kisahkan, adalah keteldanan dalam ketaatan. Sebagimana engkau Mbah...

اللهم اغفر لها و ارحمها و عافها واعف عنها...

Kita Pun Akan Pergi

by on Februari 25, 2018
Sudah hampir setahun mbah pergi. Saya yang memang tidak setiap hari bersama beliau, sering merasa bahwa beliau belum pergi. Mbah yg sangat...
Menikah 22 Agustus 2014.
Berteman di facebook 26 Agustus 2014. Tepat empat hari setelah menikah.

Begitulah.

Telah menjadi komitmen saya u/ tidak bermain2 dengan rasa merah jambu. Memeliharanya diluar akad, ibarat janin tumbuh di luar rahim. Bukan habitatnya dan berbahaya.

Bukan karena tidak pernah jatuh cinta, bukan. Saya normal seperti Anda. Justru karena sdh merasakan pahitnya cinta tanpa bimbingan Islam yang sempurna.

Terlebih setelah ngaji saya diajari, bahwa rasa cinta adalah buah dari naluri melestarikan jenis (gharizah nau'). Karakteristik gharizah ini adalah, muncul saat ada rangsangan dari eksternal, bisa dialihkan dan pemenuhannya tidak bersifat pasti. Maksudnya, jika tidak dipenuhi tidak akan membawa pada kematian.

Dari konsep ini, sejatinya cinta hanya karena naluri itu mengerikan dan rapuh. Ia hanya akan menjadi sumber kegelisahan berkepanjangan. Sumber kegetiran, dan kebahagiaan yang ditawarkannya akan cepat menguap bersama sinar mentari. Tragisny, kalo faktor eksternal pemicunya hilang, maka hilanglah cinta.

Dan di hadapan kita sudah bertaburan, korban2 dari ikatan rapuh ini.

Maka saya azzamkan. Saya tak ingin lagi jatuh cinta. Yang saya ingin dan harus adalah membangun cinta. Dalam bingkai pernikahan.

Cinta dibangun persis setelah ijab qabul terucap. Titik.

Maka sepanjang proses ta'aruf, tak ada tukar nomor HP, tak berteman di fb, tak ada sama sekali komunikasi langsung.





Hanya 3x bertemu bersama ustadz dan ustadzah yg menghubungkan, salah satunya ustadzah Lailin Nadhifah (barokallah mb...). Sekali di rumah saat proses khitbah. Sekali di rumahnya sebulan setelah khitbah. Sudah. Padahal masa ta'aruf, khitbah hingga menikah cukup lama...1 tahun.

Selebihnya? Hanya 1 buah surat. Yang ditulis tangan oleh suami, ttg azzamnya melanjutkan ta'aruf ke khitbah. Yang lain2, diurus oleh ustadzah dan kakak laki2 saya.

Ketika beberapa kali harus ke rumah u/ menentukan tanggal dan teknis pernikahan, lewat ustadzah, saya beri nomor HP ayah saya. Krn menurut sy, itu urusan beliau dengan wali saya.

Ketika beliau ingin mengenal diri saya & keluarga lebih dalam, lewat ustadzah, sy beri nomor HP kakak saya. Dan beliau berurusan sendiri dan langsung dengannya.

Nggak ada urusan dengan saya....

Kaku? Mungkin iya. Tapi itulah cara saya menjaga, spy tidak tumbuh benih2 cinta sebelum akad. Karena saya cukup mengerti kelemahan diri ini...

Karena juga, ta'aruf & khitbah hanyalah ikhtiar... sementara jodoh tetap Allah yg tentukan. Banyak kita temui, tanggal telah ditentukan, bahkan undangan telah disebarkan, tapi batal menikah. Dan itu akan sangat sakit jika benih cinta telah tumbuh membesar.

Sy tdk mau. Sdh cukup. Sudah cukup banyak sy saksikan kemalangan akibat cinta liar ini.

Bahkan dalam do'a sy pinta, "ya Allah... nikahkan hamba dengan org yg tidak mengenal hamba dan hamba pun tidak mengenalx."

Supaya apa? Supaya netral. Pilihan hanya didasarkan pada perintah2 Islam.. bukan perasaan. Dan supaya posisi kita sama. Sama2 membangun cinta dengan aqidah pondasinya.

Allah Maha Luar Biasa...
Allah mengabulkan jika kita bersungguh2 meminta.

Dan alhamdulillah... anugrah Allah luar biasa. Dia karuniai suami, seperti yang sy pinta dalam doa2.

"Yang mencintaiMu, mencintai Rasul-Mu, mencintai perjuangan menegakkan agamaMu. Yang lembut. Yang hatinya mudah disentuh oleh al-Quran dan hadist. Yang bertanggung jawab. Yang menerima hamba dan keluarga hamba. Yang tidak merokok..."

Banyak ya yg diminta. 😊

Saya juga ingat pesan ustadzah Nauroh Alifah. Bahwa jangan berharap awal menikah langsung bahagia, penuh cinta berbunga2.

Pesan ini sy pegang kuat. Awal menikah sungguh ujian keikhlasan dan kesabaran. Menyatukan 2 kepala dg pola asuh berbeda bukan hal mudah.

Laiknya orang membangun rumah, rumah tdk bs ditempati dan dnikmati saat itu juga. Dan ini adalah masa2 membangun cinta, menikmati indahnya tidak dalam proses yang sekejap mata.

Allah Maha Menepati Janji, Ar Rum ayat 21, Allah berjanji menurunkan mahabbah pd yg menikah karena ketaatan padaNya. Yg menikah mencari ridloNya.

Membangun cinta pada suami karena Allah, mencintai suami karena Allah. Menjadikan ridlo Allah tujuan, sungguh inilah sakinah.

Tidak akan takut mengingatkan suami kala salah, semata mengharap ridlo Allah. Semata mencintainya karena Allah.

Akan selalu mendukungnya dalam ketaatan pada Allah. Semata ingin bersama2 dalam surganya Allah....

3 tahun pernikahan kami, mhn doa semoga Allah sll ridloi dan jaga kami...



Mencintai Suami

by on Februari 25, 2018
Menikah 22 Agustus 2014. Berteman di facebook 26 Agustus 2014. Tepat empat hari setelah menikah. Begitulah. Telah menjadi komitmen saya u/...
Ibarat serial bersambung, kisah tragis TKI seolah terus tersambung tiada habisnya. Desember 2017 lalu, Sutini, TKW asal Jember meninggal dunia di Malaysia akibat penyakit asma yang dideritanya. Usut punya usut, Sutini berangkat ke negeri jiran secara illegal, sehingga tidak mendapat pengobatan secara maksimal. "Ya, bagaimana lagi, kami masuk ke negeri Jiran Malaysia ini tidak resmi, mau dibawa kerumah sakit takut tertangkap”, Kata Sarmaji (40), Suami Almarhumah.

Satu bulan sebelumnya, Siti Romlah (35) asal Gumukmas, mengalami penyiksaan di Malaysia dan dipulangkan dalam kondisi sakit dengan bekas luka di beberapa bagian tubuhnya. “Saya sering mendapatkan perlakuan yang kasar dari majikan seperti disiram air panas, dipukul benda tajam dan benda tumpul yang ada di dapur,” Kata Siti. Selama lima tahun berkerja di Malaysia, dia hanya mendapat gaji Rp 5juta. Sisa gajinya selama lima tahun tidak dia peroleh. Padahal Siti Romlah berangkat secara resmi melalui jasa penyalur TKI, PT. Lia Central Utama.

 

Nasib serupa juga dialami Sani (50), TKW asal kecamatan Gumukmas. Sani hanya merasakan gaji tiga bulan pertama. Setelah itu, dia diisolir dan selama enam tahun bekerja tanpa digaji. Beruntung, berita tentangnya diketahui KBRI di Malaysia. Setelah dilacak dan dilakukan mediasi, Sani mendapat uang 22 ringgit atau 70 juta. Jumlah yang tak sepadan untuk pengabdian yang panjang. Sani pun dipulangkan ke Indonesia.

Benang Kusut Persoalan TKI

Jember merupakan salah satu kota penyumbang TKI di Jawa Timur. Di desa Sumbersalak, kecamatan Ledokombo misalnya, sekitar 700 orang atau 40% penduduknya menjadi TKI. Sementara di desa Dukuh Dempok, kecamatan Wuluhan ada 25% penduduknya menjadi TKI. Menurut kepala Desa Sumbersalak, ketersediaan lapangan pekerjaan di desanya memang minim.

Kemiskinan dan minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan menjadi satu-satunya alasan kuat menjadi TKI. Di Jember, ada angka kemiskinan naik 1800 orang (Radar Jember, 13/2). Sementara di Indonesia, ada sekitar 27,7 juta rakyat miskin (sindonews.com).

Namun sayang, niat suci mencari penghidupan di luar negeri tidaklah mudah. Banyak persoalan dan penderitaan yang dialami TKI. Padahal telah ada setidanya 41 aturan dan 18 institusi yang mengurus TKI.

Salah satunya adalah peraturan desa TKI. Miftahul Munir, kepala desa Dukuh Dempok, kecamatan Wuluhan, sempat mempresentasikan konsep ini dalam kegiatan Session United Nation Committee On Migrant Workers, di Markas Besar Perserikatan Bangsa (PBB) Jenewa Swiss. Perdes TKI adalah ujung tombak perlindungan terhadap TKI.  Setiap calon TKI pasti melewati birokrasi desa. Misalnya terkait KTP atau Kartu Keluarga. Jika desa memiliki peraturan desa yang melarang TKI di bawah umur berangkat, maka keberangkatan TKI di bawah umur bisa dicegah.

Sesederhana itukah? Faktanya, persoalan bukan hanya ada pada masalah administrasi di desa. Dan tanpa perdes pun, larangan TKI di bawah umur telah tertuang dalam Pasal 5 UU No.18 tahun 2017.

Perlu kita ketahui bahwa selama ini proses penyaluran TKI mulai dari perekrutan, pelatihan, transit dan penempatan tidak secara langsung dilakukan oleh pemerintah. Akan tetapi oleh PPTKIS atau Penyalur Jasa TKI. Setiap WNI punya hak untuk memilih pekerjaan baik di dalam atau luar negeri. Pencarian pekerjaan di luar negeri bisa dilakukan secara mandiri/perorangan atau melalui jasa PJTKI.

"Kalau Anda memiliki keterampilan profesional di bidang komputer, dan mau bekerja di luar negeri, Anda bisa mencari lowongan kerja di internet sendiri. Namun, TKI harus lewat PJTKI. Adanya monopoli oleh pihak swasta ini merupakan tindakan diskriminastif," kata Wahyu Susilo, aktivis Migrant Care. Ya, PJTKI memonopoli penempatan tenaga kerja yang sebagian besar berkecimpung di bidang keterampilan rendah, seperti pekerja rumah tangga.

Berdasar penelitian Migrant Care, PJTKI mendapat banyak keuntungan dari bisnis mereka. Dengan keuntungan yang besar, wajar banyak PJTKI bermunculan. Baik legal maupun tidak. BNP2TKI menyebutkan, hanya ada 486 PJTKI yang terdaftar.

Banyak kasus menimpa TKI karena abainya PJTKI. Menurut Anis Hidayah, PJTKI nakal ada di banyak tempat di seluruh Indonesia. Beberapa di antaranya bahkan berlokasi tidak jauh dari kantor pemerintah. Itu sebabnya dia menyayangkan fakta tersebut. “Pemerintah itu tahu, tapi membiarkan adanya tindakan ketidakmanusiawian itu,” ujarnya (tempo, 6/11/14).

Persoalan perbedayaan budaya, bahasa dan tingkat pendidikan menjadi masalah berikutnya ketika TKI berada di luar negeri. Ini membuat mereka rentan menghadapi penganiayaan, pelecehan atau penyiksaan. Meskipun sebelum berangkat ke luar negeri mereka telah diberi pelatihan dan sertifikat bagi yang lulus kompetensi. Namun karena pengawasan dan penegakan hukum yang lemah, sertifikat itu pun mudah diperjualbelikan.

Upaya pemerintah Indonesia untuk mengadakan perjanjian bilateral mengakomodasi ketentuan-ketentuan dari Konvensi Perlindungan atas Hak-hak Buruh Migran dan Keluarganya dengan negara penerima TKI pun bisa menjadi nihil jika negara penerima tidak meratifikasi.

Akar masalah TKI

Nampak jelas bahwa akar masalah TKI adalah karena lemahnya peran negara. Negara tidak mampu mengentaskan kemiskinan, negara tidak mampu membuka lapangan pekerjaan yang luas. Di saat lebih dari 7 juta rakyat menganggur, pemerintah justru membuka kemudahan tenaga kerja asing masuk ke Indonesia. Mungkin, menerima tenaga kerja asing lebih mudah ketimbang harus susah payah meningkatkan kualitas SDM anak bangsa. Namun dalam jangka panjang, ini akan menghancurkan negara kita sendiri.

Pada saat yang sama, negara melepaskan tanggung jawabnya dalam mensejahterakan rakyat dengan hanya berfungsi sebagai perantara bagi rakyat dengan pencari tenaga kerja di luar negeri. Inilah konsekuensi dari penerapan sistem demokrasi-kapitalis yang menjadikan hukum buatan manusia dan berbagai kesepakatan-kesepakatan internasional sebagai panglima.

Sulit bagi negara untuk mencegah rakyanya menjadi TKI ketika konvensi internasional tentang Pekerja Migran tahun 1990 justru menekankan bahwa hak pekerja migran dan anggota keluarganya diantaranya adalah kebebasan untuk meninggalkan negara manapun termasuk negara asalnya. Terbukti, ketika pemerintah menetapkan kebijakan moratorium TKI yang berprofesi sebagai PRT  ke-19 negara, divisi pekerja migran PBB memprotes dan mengatakan ini adalah bentuk diskriminasi. Padahal moratorium itu ditetapkan untuk melindungi rakyat Indonesia.

Dalam Islam, keterikatan negara bukanlah pada perjanjian atau kesepakatan internasional, tapi pada hukum-hukum Allah. Negara dalam Islam memiliki dua fungsi utama yakni sebagai ra’in (pengurus/pemelihara) dan junnah (perisai/penjaga). Bukan sekedar sebagai perantara bagi terpenuhinya hajat rakyat. Sudah saatnya kita kembali kepada Islam –dalam mengelola negara- yang telah Allah hadirkan sebagai rahmat bagi semesta alam.[]


sumber gambar : sindonews

Mengurai Benang Kusut TKI

by on Februari 25, 2018
Ibarat serial bersambung, kisah tragis TKI seolah terus tersambung tiada habisnya. Desember 2017 lalu, Sutini, TKW asal Jember meninggal d...
Lebih sebulan yang lalu, Yuyun ditemukan di semak belukar kebun karet tak jauh dari pemukiman warga dengan kondisi tidak bernyawa. Kasus pemerkosan yang disertai pembunuhan terhadap Yuyun, siswi SMP 5 Satu Atap Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT), Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu berhasil dibongkar aparat kepolisian, 12 dari 14 pelaku telah diringkus dan dinyatakan sebagai tersangka. Dua lainnya masih menjadi buronan. Dari hasil pemeriksaan aparat Polres Rejang Lebong dan Polsek PUT, pelaku menodai korban hingga menghabisi nyawanya sangat begitu sadis dan tidak manusiawi.
Dengan kondisi telungkup tak berbusana, kedua tangan terikat disilangkan ke kaki kanan, wajah lebam dan berulat serta kulit yang mulai mengelupas. Yuyun adalah seorang gadis SMP yang harusnya sedang menikmati masa remajanya. Tapi karena ulah 14 orang kriminil, ia harus meregang nyawa dengan cara yang memilukan. Hasil visum menyatakan, kemaluan dan anusnya menyatu. Ini karena ada pelaku yang mengulangi perbuatan bejatnya beberapa kali dan sadisnya lagi, bukan hanya kemaluan korban yang menjadi sasaran, tapi juga dubur dan mulut. Kepalanya dipukul kayu, lehernya dicekik. Tak dapat dibayangkan betapa sakit yang dialami oleh Yuyun ketika kejadian naas itu menimpanya.


Kasus Yuyun menjadi bukti bahwa kekerasan seksual bukan hanya marak terjadi di ibukota atau kota besar melainkan ‘merata’ hingga pelosok desa kecil. Jember pun tak luput. Januari 2016, seorang siswi di Jember diperkosa ramai-ramai oleh berandalan setelah dicekoki miras.Menurut suarajatimpos.com (11/5),rangking kejahatan seksual di Jember melonjak tajam.
Pornografi Biang Keladi
Kriminolog Anggi Aulina, menyatakan, perkosaan tidak sama dengan kejahatan lain. Kejahatan terjadi karena adanya niat, kesempatan dan kurangnya pengawasan. Sementara kejahatan perkosaan, bukan hanya disebabkan adanya niat, kesempatan dan kurangnya pengawasan namun juga karena adanya fantasi. Bahkan menurutnya, dalam kasus perkosaan, fantasi liar menjadi pemicu utama, baru kemudian niat dan kesempatan.
Pertanyaanya, dari mana fantasi liar ini muncul? Tentu kita semua sepakat, jawabnya adalah pornografi. Anggi Aulina menegaskan, fantasi liar yang sekarang beredar di masyarakat menjadi pendorong remaja/dewasa melakukan kejahatan perkosaan. Fantasi ini bisa terbentuk dari media dan lingkungan. Bahkan, menurut Anggi, media dan lingkungan menjadi sumber pembelajaran kejahatan. Metode, bagaimana cara memperkosa, kapan memperkosa, korban seperti apa yang rentan, semua bisa dipelajari. Ngeri bukan?
Apa yang dinyatakan Anggi bukan teori belaka. Kenyataannya, para ABG yang memperkosa Yuyun mengaku kepada polisi bahwa mereka sering menonton film porno yang diputar melalui DVD di rumah. Tak hanya itu, mereka juga terbiasa menonton adegan porno melalui telepon genggam.
Di era kecanggihan alat komunikasi atau gadget saat ini, konten pornografi-pornoaksi makin mudah didapat dan disebar. Pornografi-pornoaksi juga banyak terpampang di media cetak dan elektronik. Banyak tayangan majalah dan televisi mengarahkan pada kehidupan bebas dan mengumbar aurat wanita. Iklan-iklan dan berbagai film banyak bermuatan erotis. UU Pornografi tak bernyali karena semua atas nama seni.
Ya, inilah dahsyatnya serangan pornografi yang –sadar atau tidak- diimpor negeri ini dari Barat. Ideologi liberal yang dibawa satu paket dengan sistem demokrasi menempatkan kebebasan berperilaku sebagai hak yang harus dijunjung tinggi. Meminggirkan norma-norma ketimuran, kesusilaan dan agama. Wajar, secara asas, demokrasi lahir dari konsep pemisahan agama dengan aturan kehidupan. Dengan kata lain, agama ‘haram’ ikut campur dalam pengaturan negara/kebijakan publik. Jadilah pornoaksi-pornografi bak kacang rebus yang mudah dan murah didapat.
Tidak aneh, di negara kampiun demokrasi, angka pemerkosaan sangat mengerikan. Di AS, 1 dari 6 perempuan pernah diperkosa selama hidupnya. Di Inggirs, 1 dari 5 perempuan pernah menjadi korban pelecehean seksual sejak usia 16 tahun. Di Jerman, gereja Katolik sampai membolehkan pemakaian pil KB bagi korban saking tingginya kasus pemerkosaan. Di Kanada, total kasus pemerkosaan yang pernah dilaporkan sebanyak 2.516.918 kasus (sumber : WomenAndShariah, 2015).
Cukupkah pemberatan hukuman?
Menilik akar penyebab maraknya perkosaan di atas, tak adil rasanya jika solusi atas maraknya kekerasan seksual hanya dititikberatkan pada pemberatan hukuman bagi pelaku. Bukan hendak membela pelaku, akan tetapi –jika kita mau jujur- dengan sistem demokrasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai liberal, pelaku-pelaku kejahatan seksual akan terus diproduksi. Bahkan usianya semakin dini. Sebagaimana dinyatakan kriminolog Anggi Aulina, pelaku dibentuk oleh struktur dan kultur negara kita.
Solusi atas maraknya kekerasan seksual haruslah multidimensi. Bukan hanya dari sisi penegakan hukum. Solusi itu akan kita dapatkan dalam sistem Islam. Islam bertentangan secara diametral dengan demokrasi. Jika demokrasi sekedar mengakui adanya Tuhan tapi menolak aturan Tuhan dalam kehidupan, maka Islam mengakui adanya Allah sebagai Tuhan yang menciptakan (al-khaaliq) sekaligus Pembuat Hukum (al-mudabbir). Inilah akidah Islam.
Akidah Islam menjadi landasan dalam sistem pergaulan, pornografi-pornoaksi mutlak diharamkan untuk segala usia. Produksi media yang memuat konten pornografi-pornoaksi dilarang, meskipun atas nama seni. Islam mewajibkan pemeluknya menutup aurat dengan sempurna, sama sekali tidak boleh ada rangsangan fantasi seksual di ranah publik. Rangsangan seksualitas hanya boleh ada dalam kehidupan privat suami-istri. Islam melarang kehidupan yang bebas dan campur-baur antara laki-laki dan perempuan. Pertemuan laki-laki dan perempuan hanya diperbolehkan jika ada hajat syar’i seperti jual-beli, menuntut ilmu, pengobatan, dan sebagainya.
Akidah Islam juga menjadi landasan dalam sistem pendidikan. Tujuan pendidikan adalah menciptakan pribadi takwa sekaligus menguasai iptek untuk kemaslahatan manusia. Bukan output yang sekedar siap kerja/mengejar nilai-nilai materi seperti sekarang. Akidah Islam menjadi ruh dalam setiap mata pelajaran dan proses pembelajaran. Berbeda dengan sekarang, dimana Islam hanya dipelajari sebagai wawasan, bukan pedoman hidup.
Dengan demikian, fantasi-fantasi liar tidak akan beredar di masyaraklat. Kalau terbersit niat jahat saat ada kesempatan dan lemah pengawasan, maka iman takwa yang dibentuk sistem pendidikan Islam menjadi bentengnya. Jika masih saja ada yang melanggar, maka Islam memberikan sanksi yang berat. Pelaku perkosaan dijatuhi hukuman zina, yakni dicambuk 100 kali (jika belum menikah) dan dirajam hingga mati (jika sudah menikah). Jika disertai pembunuhan, sanksinya adalah qishash atau membayar diyat. Jika pembunuhan dilakukan secara berkelompok, maka mereka yang terlibat langsung dikenai sanksi qishash dan yang mempermudah pembunuhan dipenjara. Beratnya sanksi ini akan memberi efek jera, mencegah orang lain melakukan kejahatan serupa. Sanksi ini sungguh memberi keadilan pada korban dan pelaku. Karena bagi pelaku, sanksi ini akan menjadi penebus dosanya di akhirat.
Jangan Lagi Ada Yuyun Berikutnya
Kita tentu tidak ingin, Indonesia yang diperjuangkan oleh darah para pahlawan dan syuhada’, dirusak moral generasinya oleh ideologi liberal. Bukannya menjadi negara yang maju dan bangkit, justru Indonesia terpuruk dan menjadi negara sasaran penjajahan budaya oleh Barat. Kita tentu tak ingin ada Yuyun-yuyun berikutnya. Jika demokrasi terbukti tak mampu membendung kerusakan yang ada, salahkah jika kita menoleh kepada Islam? Dalam panggung sejarah selama 14 abad, ketika Islam diterapkan secara sempurna dalam sebuah negara (khilafah), terbukti tercapai ketinggian peradaban yang tiada tandingnya. Bahkan, hidup di dalamnya umat Islam dan non Islam secara mulia, aman dan damai. Semua menikmati kerahmatan hukum-hukum Islam.[]
sumber gambar : tabloid bintang

Beberapa waktu lalu masyarakat Jember dihebohkan dengan penemuan mayat bayi yang masih lengkap dengan tali pusarnya tengah dimakan dua ekor biawak di aliran Sungai Bedadung. Sungguh tragis dan menyedihkan! Kepala hingga leher bayi malang tersebut habis menjadi santapan biawak. Diduga bayi tersebut merupakan hasil hubungan gelap (zina) dan sengaja dibuang orang tuanya. Siapapun yang masih memiliki nurani pasti akan terpukul dan tersayat dengan tragedi kemasuniaan ini.

Belum tuntas penyelidikan peristiwa ini, masyarakat Jember kembali disuguhi berita dukun pijat bayi yang membuka layanan tambahan yakni aborsi. Praktek yang sangat rapi antara dukun pijat, perantara dan pasien. Masyarakat paham bahwa tertangkapnya Misrati, sang dukun pijat, hanyalah fenomena gunung es. Masih banyak praktek aborsi yang tidak terekspose media atau terendus polisi.

Ibarat kata pepatah, tak ada asap kalau tak ada api. Pembuangan bayi dan aborsi “hanyalah” implikasi dari syahwat manusia yang tak terkendali. Bayi-bayi mungil menjadi korban dari rusaknya moral orang tua mereka. Hubungan gelap, seks bebas, alias zina adalah penyebab maraknya pembuangan bayi dan praktek aborsi. Bayi-bayi mungil itu tak dapat merasakan sakinah dalam kasih sayang orang tua mereka.

Seks bebas, saat ini seolah menjadi bagian dari gaya hidup. Tidak hanya ada di kalangan masyarakat kota. Tapi juga menembus dinding-dinding rumah masyarakat desa melalui sarana paling ampuh, televisi dan internet. Merebaknya seks bebas, merupakan salah satu ancaman nyata bagi kesakinahan keluarga. Betapa tidak, seks bebas apabila dilakukan oleh anak akan menghancurkan hati dan harapan orang tua. Apabila dilakukan oleh salah satu pasutri, akan meretakkan hubungan, memicu pertengkaran dan dapat berakhir pada perceraian. Seks bebas, hakikatnya adalah musuh yang harus diperangi setiap keluarga.




Banyak faktor yang membuat seks bebas kian hari kian digemari. Bahkan meskipun dampak dari perilaku maksiyat nan keji ini telah Nampak secara kasat mata. Adanya berbagai penyakit menular seksual yang mengerikan, pembuangan bayi dan praktek aborsi yang menurunkan manusia ke derajat hewani.

Lemahnya iman, kuatnya rangsangan seksual melalui berbagai tayangan-tayangan dan gambar porno, gaya hidup yang lebih mementingkan kesenangan duniawi, masyarakat yang kurang peduli dan system hukum yang tak berkutik menghadapi para pelaku seks bebas adalah lingkaran yang menyebabkan seks bebas tumbuh subur. Pangkal dari semua ini adalah diabaikannya Islam dalam kehidupan. Islam disempitkan hanya sebatas ibadah ritual, syari’atnya yang lengkap dan sempurna tidak lagi dijadikan pedoman menjalani kehidupan.

Tentu kita tidak menginginkan ada lebih banyak lagi bayi dibuang atau dibunuh sebelum sempat menyapa dunia. Tentu kita tidak menginginkan, sebuah prahara ada dan lestari dalam kehidupan keluarga akibat ancaman seksbebas. Tentu kita tidak menginginkan, adzab Allah dating memenuhi “undangan” kita. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita melirik kembali pada Islam untuk menghentikan tragedi kemanusiaan ini. Islam tidak mengekang naluri seksual, akan tetapi Islam juga tidak membebaskannya sehingga menjadi liar. Islam mengaturnya agar tersalur mulia dalam sebuah ikatan pernikahan. Dengan syari’at pernikahan inilah terbentuk sebuah lembaga bernama keluarga. Hubungan yang ada di dalamnya dijalani dengan penuh tanggung jawab karena merupakan bagian dari ibadah. Keberadaan anak pun, dimaknai sebagai amanah dan sebuah investasi di akhirat. Islam mengharamkan penelantaran bayi-bayi apalagi membunuhnya!

Penanaman keimanan dan penjagaan terhadap syari’at Islam inilah yang akan menghentikan mewabahnya seks bebas berikut implikasinya dan akan menjamin kesakinahan keluarga. Wallahua’lam. []

Sakinah Tanpa Seks Bebas

by on Februari 25, 2018
Beberapa waktu lalu masyarakat Jember dihebohkan dengan penemuan mayat bayi yang masih lengkap dengan tali pusarnya tengah dimakan dua eko...
Mayoritas penghuni bumi mengatakan aku bodoh. Bukan lantaran IPK-ku jelek. Juga bukan karena berkali-kali aku gagal seleksi beasiswa S2 ke luar negeri. Tapi karena aku memutuskan hubunganku dengan Ardi! 
What’sss???!!! Sinting!” Begitulah ekspresi sahabat-sahabat tercintaku.
Ardi adalah sosok sempurna. Kebagusan fisiknya seimbang dengan kebaikan hatinya. Intelektualitasnya ditunjang dengan kreativitas. Dimana kakinya berpijak, disitu pasti ada gairah berkarya.Karena itulah dia digemari. Aku pun tak kuasa mengelak saat ia menawariku hari berpelangi.
Tapi semua berubah saat aku terhenyak dengan statusku sebagai muslim. Ya, muslim! Baru aku bisa merenungi konsep Islam yang gamblang tentang pergaulan : la taqrabuz-zinaa1)terjadilah keputusan itu. Selanjutnya adalah hari-hari penuh elegi. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dilupakan. Menyiksa!
Hana punya pacar baru, lebih keren dari Ardi. Ngilu hati ini saat kalimat itu pula yang meluncur dari mulut Ardi. Engkau bagiku adalah sempurna, Ar… tapi salahkah bila aku ingin menyempurnakan ketaatan pada-Nya? Batinku terisak.
Gagal menemukan orang yang bisa dituduh sebagai pacar baru, muncullah gossip: Hana dijodohkan!Secepat aliran lahar dingin Merapi gosip itu menyebar. Lalu disepakati sebagaikebenaran pasti saat aku dinilai melakukan kebodohan kedua : menolak lamaran Ardi!
“Aneh, kamu Na! Kurang apalagi? Ardi juga udah berubah alim. Nggak sembarangan ma cewek, aktivis pula! Apa kamu nggak tambah cinta sama dia?!” cerocosFaya, sahabatku.
“Justru karena perasaan cintaku ini, Fay…”
Di otakku melekat sebuah hadist yang membuatku gelisah. Barangsiapa memberi karena Allah, tidak memberi karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah dan menikah karena Allah berarti telah sempurna imannya.2) Mengendurkan senyum yang membuncah saat kali pertama mendengar Ardi berucap, “Jadilah istriku…”. Bahagia membayangkan menjadi ratu di hati Ardi dengan restu-Nya.Tapi… alasan apa aku menerimanya? Benarkah karena keislamannya? Atau karena memang sejak dulu aku mengharapnya? Allah… sulit memastikan diri ini ikhlas karena-Mu semata.
Berjuta pertanyaan muncul. Bagaimana kalau yang melamarku bukan Ardi? Apakah aku akan menerimanya? Ah, sekali lagi aku berjibaku dengan diriku. Untuk memastikan aku objektif, ku tolak lamaran Ardi. Faya pun mengumpat, “What a stupid girl!”
Ujian imanku belum usai. Belum pudar perasaanku terhadap Ardi, gossip itu menjadi kenyataan. Ayah menjodohkanku! Ternyata sulit memasukkan lelaki lain ke hati ini. Tapi, demi kesempurnaan iman, ku terima perjodohan itu dengan berat hati. Secara objektif, dia jauh lebih baik dari Ardi. Ku tata hatiku untuk ikhlas menerimanya. Perlahan, nama Ardi gugur. Berbekal biodata di e-mail dan dua kali bertemu, aku mantap. Allahu… damainya hati ini. Kebahagiaan menyeruak. Hingga kemudian…
“Maaf, Hana. Ibuku tetap tidak setuju. Sudah ku jelaskan tentangmu tapi beliau tetap menginginkan menantu lulusan pesantren.”
Tulangku serasa lolos satu-persatu. Batal menikah saat tinggal menentukan hari! Aku sarjana sains bukan santri! Biarpun sekarang aku berjilbab dan terlibat dalam dakwah, orang awam bisa saja menyangsikan pemahaman agamaku.
Setelah itu… tertatih-tatih ku rangkai kembali cita-citaku akan kesempurnaan iman. Membunuh asa, menyibukkan diri dengan seleksi-seleksi beasiswa S2.
***
“Hana, mau nggak nikah dengan keponakan Bapak?”
Aku terkesiap. Prof. Fahmi, pembimbing tesisku, menjodohkanku dengan keponakannya? Setelah dua tahun ku abaikan keinginan itu, fokus pada pilihanku untuk S2. Aku sangat mengenal pribadi beliau, sehingga aku yakin beliau tidak akan sembarangan.
“Dia baru dapet gelar master. Insya Allah agamanya bagus. Sejak semester lalu, dia sudah dikontrak untuk kerja. Namanya Fatih.”
Aku keluar dari ruangan Prof. Fahmi dengan galau. Belum ada kecondongan menikah. Tapi, kenapa juga aku nggak mau menikah? Bukankan menikah adalah separuh agama? Apakah aku masih trauma? Duh, Rabbi… inikah lagi jalan untuk kesempurnaan itu?
Aku tak banyak bertanya tentang sosok Fatih. Tak juga ingin bertemu dengannya. Foto yang dikirimkannya ke e-mailku pun enggan ku buka. Kali ini aku ingin netral. Netral, sehingga tak perlu terlalu sedih jika gagal. Benar-benar ingin ku sempurnakan jalanku menuju kesempurnaan iman itu. Setelah istikhoroh berkali-kali, ku terima tawaran Prof. Fahmi.
Dan, aku sangat takjub saat bertemu dengannya. Tepat di hari akad pernikahan kami. Allahu Akbar, seketika pipiku merona. Tak dapat ku sembunyikan pendar bahagia itu. Sekilas… ku lihat dia tersenyum. Usai akad, kami pun menapak kehidupan baru.
Keponakan Prof. Fahmi yang dipanggilnya Fatih itu ternyata Ardi! Ya, lelaki yang sekarang tertidur pulas di samping bayi yang sebulan lalu ku lahirkan adalah Langit Biru Lazuardi. Dia kini suamiku, lalu bagaimana aku tidak mencintainya?
Allah… rencanamu maha sempurna!


Note:
1)La taqrabuu az-zina : janganlah mendekati zina (terdapat dalam al-Quran surat al-isra’ : 32)

Sempurna

by on Februari 17, 2018
Mayoritas penghuni bumi mengatakan aku bodoh. Bukan lantaran IPK-ku jelek. Juga bukan karena berkali-kali aku gagal seleksi beasiswa S2 ke ...